Menguatnya Integritas, kemenangan Sejati di Hari yang Fitri!
Oleh : Rizal Pauzi
Ramadan 1445 H sebentar lagi usai. Banyak cara ummat Islam menikmatinya, ada yang beriktikaf di masjid, ada yang sibuk berbagi tunjangan hari raya (THR), bersiap untuk mudik dan adapula yang menghabiskan waktu atri di tempat – tempat perbelanjaan. Semua itu merupakan aktivitas yang telah menjadi culture ummat Islam hampir di seluruh daerah di Indonesia. Walaupun pada dasarnya, kita semua telah memahami bahwa tujuan berpuasa sebagaiman dalam alquran surah Al Baqarah ayat 183 adalah terbentuknya derajat taqwa.
Ramadan sebagai bulan yang mulia dengan dilipatgandakannya berbagai pahala tentu punya indikator tersendiri dari keberhasilannya. Berbagai ayat dan hadist menjelaskan betapa muliahnya beribadah di bulan Ramadan. Bahkan dihadirkan malam lailatul qadr dengan ribuan kali lipat pahala. Tentu ini semua merupakan instrument ilahi agar setiap manusia meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Dari berbagai ciri ketaatan kepada Allah SWT, salah satunya yakni integritas.
Integritas merupakan hal yang mudah diucapkan, namun menjadi hal yang Langkah di Indonesia saat ini. Tentu kita bisa menyaksikan beberapa kasus pejabat publik yang menyalahgunakan kewenangannya. Sebut saja mantan ketua MK Anwar Uswman dianggap melanggar etik oleh MKMK, ketua KPU beberapa kali mendapatkan teguran dari DKPP karena tindakannya, terakhir soal kasus Timah yang merugikan negara hingga ratusan Trilyun. Tapi cerita itu bersifat makro karena memang skala godaannya besar. Namun yang meresahkan, lemahnya integritas ini juga dikeluhkan salah satu senior organisasi yang saat ini menjabat salah satu direktur di badan usaha miliki negara skala nasional. Menurut pengalamannya, beberapa kali berusaha mengajak kader organisasi tersebut untuk berkarir di pekerjaan profesional, namun sampai hari ini belum ada yang memuaskan atas kinerja profesional dan integritasnya. Bahkan menurutnya, ada beberapa junior yang diikutkan, cenderung mudah terlena oleh godaan materi yang jumlahnya sedikit. Padahal telah menempuh proses panjang kaderisasi di organisasi Islam itu sendiri. bahkan menurutnya, praktek money politic dalam organisasi kemahasiswaan ini menandakan degradasi integritas kader organisasi Islam.
Puasa sebagai ibadah utama dalam ramadan merupakan ajang melatih diri untuk menahan segala godaan. Mulai dari soal makan dan minum, nafsu sexual hingga keserakahan. Sekiranya puasa dengan sempurna itu berjalan sepanjang tahun, mungkin semua orang punya integritas yang bagus. Sayangnya, memang tak semua orang menjalankan puasa itu dengan baik, banyak yang hanya sekadar menahan lapar dan haus saja. Yang demikian menurut hadist Riwayat Ibnu Majah no.1690 yang berbunyi, beberapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa – apa kecuali lapar dan dahaga saja.
lantas bagaimana kita merayakan kemenangan di idul fitri?
Akhir Ramadan ditandai shalat Idulfitri. Yang berarti ujian selama sebulan telah usai. Sebagai ummat Islam yang berilmu tentunya kita ingin mengetahui sejauh mana capaian kita pada bulan ramadan kali ini. Tentu, secara umum kita menyebutnya derajat taqwa. Namun untuk capian pahala menjadi hak progratif Tuhan, sehingga kita dapat mengamati dalam pengamalannya yakni salah satunya lewat kadar integritas kita. Dimana larangan – larangan saat berpuasa kita bisa terapkan, seperti mengendalikan hawa nafsu, serakah, berbohong, makan belebih dan sifat kurang baik lainnya. Kesemuanya itu menjadi tolak keberhasilan kita, jika pembiasaan selama 29 atau 30 hari ini bisa tertahan hingga Ramadan selanjutnya. Maka sepantasnyalah seorang muslim merayakan kemenangan idul fitri dengan meneguhkan komitmen menjadikan setiap hari adalah bulan ramadan, sehingga amalan dan larangan bisa terkontrol yang bermuara pada penguatan integritas.
Terbangunnya integritas bangsa, output keberhasilan Ibadah Ramadan!
Integritas sebagaimana dikemukakan oleh Stephen R Covey (2004) merupakan membuktikan tindakan sesuai dengan ucapan. Hal ini sejalan dengan definisi Andreas Harefa (2000) yang mengemukakan bahwa terdapat 3 kunci yang dapat diamati dalam integritas yakni menunjukkan kejujuran,memenuhi komitmen dan mengerjakan sesuatu dengan konsisten. Kedua konsep ini mencakup aspek karakter personal. Sehingga tak cukup dengan pendekatan sistem Pendidikan formal. Tetapi juga butuh pendekatah ilahiah yang menjadi spirit perubahan seseorang. Kita tentu bisa belajar dari desain pencipta dengan menghadirkan ramadan sebagai bulan kaderisasi, dimana berbagai instrument dihadirkan untuk mengubah karakter seseorang dan secara kolektif keummatan. Hadirnya puasa menjadi pelatihan instrument personal, sementara shalat tarwih sebagai instrument kolektif keummatan. Sehingga kitab isa mengambil hikmah dari situ. Tentu, ini menjadi tantangan berat untuk integritas secara kolektif, karena ibadah tarwih semakin mendekati akhir maka jamaah akan berkurang pula. Disitulah letak seleksinya. Tentu yang meraih kemenangan adalah yang bisa konsisten hingga akhir.
Oleh karena itu, menyambut kemenangan idulfitri 1445 H ini tentu kita perlu mengintropeksi diri atas capaian integritas kita. Juga kemampuan jamaah kita konsiten hingga akhir beribadah di bulan suci ramadan. Dengan terbentuknya integritas personal kita, dan juga integritas kolektif jamaah terbangun dengan baik. Maka akan terbentuk integritas bangsa yang kuat. Tentu menjadi pondasi yang kuat untuk memajukan bangsa di masa depan. Semoga kita konsisten berintegritas hingga tiba ramadan berikutnya.
*) Penulis adalah direktur publik policy network (Polinet)
**) tulisan ini pernah dimuat di fajar online : https://fajar.co.id/2024/04/10/menguatnya-integritas-kemenangan-sejati-di-hari-yang-fitri/


Tinggalkan Balasan